
Inovasi teknologi China semakin menunjukkan pengaruh besar di pasar global, terutama melalui pengembangan robot dan kecerdasan buatan yang dipamerkan dalam berbagai ajang internasional. Seorang peserta pameran mendemonstrasikan robot yang dapat melakukan sinkronisasi dengan gerakannya di Zona Robot Layanan selama Pameran Impor dan Ekspor Tiongkok (Canton Fair) ke-138 di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan, 15 Oktober 2025.
Kenqing Technology, sebuah perusahaan rintisan (startup) berbasis di Shenzhen yang mengembangkan produk cyborg ini, merupakan salah satu perusahaan inovasi teknologi China yang sedang mengembangkan solusi untuk menghadapi tantangan populasi lanjut usia (lansia) di negara tersebut melalui inovasi-inovasi serupa.
Perusahaan-perusahaan ini berada di garis depan dalam kreativitas elektronik baru China, yang merupakan bagian dari peralihan industri besar-besaran negara tersebut menuju “kekuatan produktif berkualitas baru”.
Daftar “Penemuan Terbaik 2025” (The Best Inventions of 2025) versi majalah TIME, yang memuat 300 produk dan dirilis bulan ini, menarik perhatian karena lebih dari 40 di antaranya berasal dari China. Sebagian besar di antaranya merupakan perangkat elektronik konsumen yang memiliki potensi besar untuk menghadirkan perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mereka yang ingin mencoba gadget terbaru, deretan rekomendasi ini menampilkan beragam inovasi teknologi China yang mengesankan, mulai dari mobil listrik BYD dan ponsel pintar (smartphone) terbaru Huawei, hingga model kecerdasan buatan, kacamata realitas tertambah , kamera drone 360 derajat, robot bipedal yang dapat diprogram, laptop bertenaga surya, serta monitor pemantauan burung pintar.
Unitree R1 merupakan sebuah robot lincah yang dibanderol dengan harga mulai di bawah 6.000 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.628). Selain itu, model yang diluncurkan oleh startup berbasis di Beijing pekan lalu, dibanderol dengan harga di bawah 1.500 dolar AS dan akan mulai memasuki masa prapenjualan (pre-sale) pada November.
Aksesibilitas semacam ini, bagian dari inovasi teknologi china khususnya, dimungkinkan berkat rantai industri yang lengkap dan respons manufaktur yang cepat di China.
Kawasan Delta Sungai Yangtze dan Delta Sungai Mutiara di China memiliki rantai pasokan yang sangat berkembang, ungkap Zhao Tongyang, pendiri EngineAI, sebuah startup robotik yang berbasis di Shenzhen.
“Misalnya, komponen yang sebelumnya berharga 2.000 yuan (1 yuan = Rp2.338) untuk diimpor, kini dapat diproduksi secara lokal hanya dengan 200 yuan.”
Rencana lima tahun berikutnya untuk pembangunan ekonomi dan sosial China, yang saat ini sedang dirumuskan, secara luas diperkirakan akan menetapkan strategi guna memperkuat fondasi ekonomi melalui basis manufaktur yang kokoh dan membangun sistem industri modern dengan manufaktur canggih sebagai tulang punggungnya.
Kemunculan model penalaran DeepSeek R1 pada awal tahun ini, yang disebut oleh editor majalah TIME untuk kategori penemuan terbaik sebagai “terobosan yang menggemparkan dunia” di kalangan AI, menandai kemajuan terbaru China dalam teknologi digital.
Namun, agenda AI China memiliki fokus inovasi teknologi yang jelas pada penerapan AI dalam produk-produk berwujud yang dapat digunakan.
Rokid, sebuah perusahaan inovasi teknologi yang berbasis di Hangzhou, belum lama ini meraih kesuksesan besar lewat produk kacamata AR terbarunya yang memungkinkan pengguna menyampaikan pidato dengan lancar melalui tampilan naskah langsung dalam bidang pandang mereka. Pesanan global untuk perangkat AI ini melampaui 250.000 unit, tidak lama setelah diluncurkan pada Juni 2025.
Demikian pula, semakin banyak perangkat pintar yang dikembangkan dalam negeri, seperti robot penyedot debu, yang mulai mendominasi pangsa pasar secara global. Para insinyur China kini menunjukkan keahlian yang signifikan dalam mengintegrasikan algoritma pintar dengan perangkat keras.
Misalnya, robot pemotong rumput dan pembersih kolam renang yang dapat merencanakan tugas secara otonom, kini memenuhi kebutuhan para pengguna luar negeri yang sebelumnya belum terpenuhi dan mengubah keunggulan teknis China menjadi produk yang laris.
“Desain dan kreasi asal China yang menjadi produk populer di pasar global akan semakin sering dijumpai,” ujar Ren Guanjiao, pendiri Willand, sebuah produsen pemotong rumput yang berbasis di Beijing.
Penemuan China lain yang meraih penghargaan meningkatkan kualitas bangunan dengan membuatnya lebih hemat energi sekaligus menarik secara estetika. Atap surya baru dari Jackery dilengkapi genteng melengkung, yang pertama di pasaran yang dirancang agar menyatu secara visual dengan lingkungan yang didominasi atap terakota. Hal ini membuktikan bahwa panel surya juga bisa memenuhi tuntutan estetika.
Inovasi Teknologi China dan Dampaknya ke Pasar Global
Beijing (ANTARA) – China menjadi negara pertama yang mengumpulkan lebih dari lima juta paten penemuan domestik yang sah, di mana paten-paten tersebut mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas, seperti dilaporkan Xinhua, Rabu.
Administrasi Hak Kekayaan Intelektual Nasional China (China National Intellectual Property Administration/CNIPA) menyatakan, Selasa (9/12), permohonan paten internasional paten-paten dari negaranya yang diajukan melalui Perjanjian Kerja Sama Paten memimpin secara global selama enam tahun berturut-turut.
Menurut CNIP, pada Juni 2025, jumlah paten penemuan bernilai tinggi per 10.000 penduduk di China telah mencapai 15,3, melampaui target 12 yang ditetapkan dalam Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025) dan lebih awal dari jadwal.
Tingkat transfer teknologi di antara universitas dan lembaga penelitian meningkat dengan stabil. Secara khusus, tingkat industrialisasi paten penemuan perusahaan meningkat dari 44,9 persen pada 2020 menjadi 53,3 persen pada 2024.
Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14, lanskap kekayaan intelektual China mengalami pergeseran strategis dari penekanan pada akumulasi kuantitas menuju peningkatan kualitas, menurut CNIPA.
Perubahan ini mempercepat komersialisasi paten bernilai tinggi, mencerminkan pengembangan yang didorong inovasi teknologi negara dan meletakkan landasan yang kokoh untuk mencapai kemandirian dan kekuatan yang lebih besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi selama periode Rencana Lima Tahun ke-15.
Produsen mobil China Changan catat tonggak produksi ke-30 juta
Chongqing (ANTARA) – Produsen mobil China Changan Automobile Group Co, Ltd, Rabu, mencatat tonggak produksi kendaraan ke-30 juta, hanya empat tahun lebih setelah kendaraan ke-20 juta mengaspal.
Xinhua melaporkan, kendaraan ke-30 juta itu merupakan sedan Avatr 12 yang diproduksi di Pabrik Pintar Avatr (Avatr Smart Factory) milik perusahaan itu yang berbasis di Kota Chongqing, China barat daya. Avatr merupakan merek kendaraan listrik premium yang dinaungi Changan.
Zhu Huarong, chairman perusahaan tersebut, menyampaikan bahwa pihaknya membutuhkan waktu 30 tahun untuk memproduksi 10 juta kendaraan pertamanya, tujuh tahun kemudian untuk mencapai 20 juta, dan hanya empat tahun lebih untuk mencatatkan tonggak 30 juta.
“Lompatan pesat ini mencerminkan momentum yang kuat terkait inovasi teknologi independen dan pengembangan skala dalam industri otomotif China,” tutur Zhu. Perkembangan ini sejalan dengan definisi kecerdasan buatan yang dijelaskan dalam Wikipedia.
Didirikan pada 29 Juli 2025 melalui restrukturisasi Changan Automobile sebelumnya dan beberapa perusahaan lainnya, China Changan Automobile Group Co, Ltd kini menjadi salah satu dari tiga grup otomotif milik negara yang dikelola secara terpusat di China. Perusahaan tersebut sedang meningkatkan transformasinya menuju elektrifikasi, konektivitas, dan kecerdasan.
Baca juga :
Tren Informatika 2025: Teknologi yang Mengubah Dunia
Perkembangan Teknologi Informasi Dari Zaman Dulu Masa Kini
